Rabu, 21 Januari 2015

Pelaksanaan Pembelajaran Membaca

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan sistem komunikasi yang amat penting bagi manusia. Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang tidak terlepas dari arti atau makna pada setiap perkataan yang diucapkan. Sebagai suatu unsur yang dinamik, bahasa sentiasa dianalisis dan dikaji dengan menggunakan berbagai pendekatan untuk mengkajinya. Antara lain pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji bahasa ialah pendekatan makna. Semantik merupakan salah satu bidang semantik yang mempelajari tentang makna.
Semantik merupakan cabang linguistik yang penting dipelajari. Dengan mempelajari semantik, kita akan tahu tentang makna-makna bahasa, karena semantik adalah ilmu yang mempelajari tentang makna.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis bermaksud untuk membuat rumusan-rumusan masalah agar pembahasan dalam makalah ini menjadi lebih terarah. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
  1. Apa yang dimaksud dengan semantik ?
  2. Apa saja cakupan studi semantik ?

1.3 Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui pengertian  semantik
2.      Untuk mengetahui cakupan studi semantik



BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian  Semantik
            Semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari yunani ‘sema’ yang berati ‘tanda’ atau ‘lambang’. Kata kerjanya adalah ‘semaino’ yang berarti ‘menandai’ atau ‘melambangkan’ yang dimaksud tanda atau lambing disini adalah tanda-tanda linguistik (Perancis : signe linguistique). Menurut Ferdinan de Saussure (1966) tanda linguistik terdiri dari :
1). Komponen yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa.
2). Komponen yang diartikan atau makna dari komponen pertama.
Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang, dan sedangkan yang ditandai atau dilambangkan adalah sesuatu yang berada di luar bahasa, atau yang lazim disebut referent/acuan atau hal yang ditunjuk.
Jadi ilmu semantik adalah :
  1. Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya.
  2. Ilmu tentang makna atau arti    
2.2 Cakupan Studi Semantik
            A. Pengertian Makna
Semantik merupakan salah satu bidang semantik yang mempelajari tentang makna. Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Mansoer Pateda (2001:79) mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat. Menurut Ullman (dalam Mansoer Pateda, 2001:82) mengemukakan bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian. Dalam hal ini Ferdinand de Saussure ( dalam Abdul Chaer, 1994:286) mengungkapkan pengertian makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik.



Dalam Kamus Linguistik, pengertian makna dijabarkan menjadi :
1. maksud pembicara;
2. pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia;
3. hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya,
4. cara menggunakan lambang-lambang bahasa ( Harimurti Kridalaksana, 2001: 132).

            B. Ragam Makna

1. Makna leksikal dan makna gramatikal
Makna leksikal ialah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lainnya dalam sebuah struktur (frase klausa atau kalimat). Contoh:
rumah : bangunan untuk tempat tinggal manusia
makan : mengunyah dan menelan sesuatu
makanan : segala sesuatu yang boleh dimakan
Makna gramatikal (struktur) ialah makna baru yang timbul akibat terjadinya proses gramatikal (pengimbuhan, pengulangan, pemajemukan). Contoh:
berumah : mempunyai rumah
rumah-rumah : banyak rumah
rumah makan : rumah tempat makan
rumah ayah : rumah milik ayah
2.Makna denotasi dan konotasi
Makna denotatif (referensial) ialah makna yang menunjukkan langsung pada acuan atau makna dasarnya.
Contoh:
merah :  warna seperti warna darah.
ular     :  binatang menjalar, tidak berkaki, kulitnya bersisik.
Makna konotatif  ialah makna tambahan terhadap makna dasarnya yang berupa nilai rasa atau gambar tertentu.
Contoh:
Makna dasar Makna tambahan
(denotasi) (konotasi)
merah : warna …………………… berani; dilarang
ular : binatang ………………… menakutkan/ berbahaya
Makna dasar beberapa kata misalnya: buruh, pekerjaan, pegawai, dan karyawan, memang sama, yaitu orang yang bekerja, tetapi nilai rasanya berbeda. Kata buruh dan pekerja bernilai rasa rendah/ kasar, sedangkan pegawai dan karyawan bernilai rasa tinggi.
Konotasi dapat dibedakan atas dua macam, yaitu konotasi positif dan konotasi negatif.
Contoh:
 Konotasi positif - Konotasi negatif:
suami istri; laki bini
tunanetra; buta
pria; laki-laki
Kata-kata yang bermakna denotatif tepat digunakan dalam karya ilmiah, sedangkan kata-kata yang bermakna konotatif wajar digunakan dalam karya sastra.

            C. Relasi Makna dalam Bahasa Indonesia
Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lain.
Masalah-masalah yang dibicarakan pada relasi makna :
1. Sinonim : hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Contoh : benar = betul.
Faktor ketidaksamaan dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan
sama persis adalah :
a. Faktor waktu, contoh : hulubalang dan komandan
b. Faktor tempat, contoh : saya dan beta
c. Faktor keformalan, contoh : uang dan duit
d. Faktor sosial, contoh : saya dan aku. ayah dan bapak
e. Faktor bidang kegiatan, contoh : matahari dan surya
f. Faktor nuansa makna, contoh : melihat, melirik, menonton
2. Antonim : hubungan semantik dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan dengan ujaran yang lain. Contoh : hidup x mati
Jenis antonim :
a. Antonim yang bersifat mutlak, contoh : diam x bergerak
b. Antonim yang bersifat relatif / bergradasi, contoh : jauh x dekat
c. Antonim yang bersifat relasional, contoh : suami x istri
d. Antonim yang bersifat hierarkial, contoh : tamtama x bintara
3. Polisemi adalah kata yang mempunyai makna lebih dari satu. Contoh : kata kepala :
1. Kepala yang berarti bagian tubuh yang bagian atas.
2. Kepala yang menyatakan pimpinan
4. Homonim adalah dua kata kebetulan bentuk, ucapan, tulisannya sama tetapi beda makna. Contoh : Bisa :
1. Bisa yang berarti racun
2. Bisa yang berarti dapat atau mampu
5. Homofon adalah dua kata yang mempunyai kesamaan bunyi tanpa memperhatikan
ejaanya, dengan makna yang berbeda. Contoh :
1. Bang : sebutan saudara laki-laki
2. Bank : tempat penyimpanan dan pengkreditan uang
6. Homograf adalah dua kata yang memiliki ejaan sama, tetapi ucapan dan maknanya beda. Contoh :
1. Apel : buah
2. Apél : rapat, pertemuan
7. Hiponim dan hipernim
Hiponim adalah sebuah bentuk ujaran yang mencakup dalam makna bentuk ujaran lain. Hipernim adalah bagian dari hiponim. Contoh :
Hiponim : buah-buahan
Hipernim dari buah-buahan misalnya anggur.
8. Ambiguiti / Ketaksaan Adalah gejala yang terjadi akibat kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Tergantung jeda dalam kalimat.
9. Redundansi Adalah berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.

            D. Perubahan Makna
Perubahan makna adalah perubahan makna kata sebagai akibat dari berbagai faktor yang mempengaruhi pemakai kata-kata tersebut, yaitu manusia. Perubahan pada manusia yang disebabkan oleh berbagai faktor membawa perubahan pula pada bahasa yang digunakannya.
Perubahan makna dalam Bahasa Indonesia dapat disebabkan oleh dua faktor umum, yaitu (1) faktor linguistis dan (2) faktor nonlinguistis.
Yang dimaksud dengan faktor linguistis adalah faktor kebahasaan yang mengakibatkan perubahan makna. Jadi, suatu kata berubah maknanya karena mengalami proses kebahasaan, seperti proses pengimbuhan (afiksasi) dan penggabungan (komposisi).
Faktor nonlinguistis adalah faktor-faktor nonkebahasaan yang mengakibatkan perubahan makna. Faktor ini meliput: (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, (2) perkembangan sosial dan budaya, (3) perbedaan bidang pemakaian, (4) adanya asosiasi, (5) pertukaran tanggapan indra, dan (6) perbedaan tanggapan pemakainya.Kegiatan Belajar.
  Jenis-Jenis Perubahan Makna Kata-kata dalam bahasa Indonesia dapat mengalami perubahan makna, di antaranya :
1. Perluasan Makna (generalisasi) Perluasan makna ialah perubahan makna dari yang lebih khusus atau sempit ke yang lebih umum atau luas. Cakupan makna baru tersebut lebih luas daripada makna lama.
Contoh: makna lama makna baru
bapak: orang tua laki-laki semua orang laki-laki yang lebih tua atau berkedudukan lebih tinggi.
saudara: anak yang sekandung semua orang yang sama umur/ derajat.
2. Penyempitan Makna (Spesialisasi) Penyempitan makna ialah perubahan makna dari yang lebih umum/ luas ke yang lebih khusus/ sempit. Cakupan baru/ sekarang lebih sempit daripada makna lama (semula).
Contoh: makna lama makna baru:
sarjana : cendikiawan , lulusan perguruan tinggi
pendeta : orang yang berilmu, guru Kristen
madrasah : sekolah, sekolah agama Islam
3. Peninggian Makna (ameliorasi)
Peninggian makna ialah perubahan makna yang mengakibatkan makna yang baru dirasakan lebih tinggi/ hormat/ halus/ baik nilainya daripada makna lama. Contoh:
makna lama: makna baru:
bung : panggilan kepada orang laki-laki, panggilan kepada pemimpin
putra : anak laki-laki, lebih tinggi daripada anak



4. Penurunan Makna (Peyorasi)
Penurunan makna ialah perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasakan lebih rendah/ kurang baik/ kurang menyenangkan nilainya daripada makna lama.
Contoh: makna lama: makna baru:
bini: perempuan yang sudah dinikahi, lebih rendah daripada istri
bunting: mengandung, lebih rendah dari kata hamil
5. Persamaan (asosiasi)
Asosiasi ialah perubahan makna yang terjadi akibat persamaan sifat antara makna lama dan makna baru.
Contoh: makna lama: makna baru:
amplop : sampul surat, uang sogok
bunga : kembang, gadis cantik
Mencatut: mencabut dengan catut, menarik keuntungan
6. Pertukaran (sinestesia)
Sinestesia ialah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan dua indera yang berbeda dari indera penglihatan ke indera pendengar, dari indera perasa ke indera pendengar, dan sebagainya.
Contoh:
suaranya terang sekali (pendengaran penglihatan)
rupanya manis (penglihat perasa)
namanya harum (pendengar pencium)


            D.Ungkapan dalam  bahasa Indonesia

1. Hakikat Ungkapan

Ungkapan sebagai salah satu komponen dalam retorika dapat diwujudkan dalam bentuk satuan ujaran yang memiliki makna kias, makna asosiatif, makna perbandingan maupun makna penyamaan. Satuan-satuan ujaran itu termasuk yang lazim disebut idiom, metafora, majas, gaya bahasa, dan sebagainya. Ungkapan merupakan bagian yang sangat penting di dalam seni berbicara, sebab ungkapan itu dapat memberi “warna” akan keindahan dan kerapian suatu bentuk kebahasaan. Ungkapan ini bersifat terbuka sehingga sewaktu-waktu dapat bertambah dari mereka yang pandai berbahasa. Ungkapan yang dirasakan tidak cocok lagi dengan keadaan zaman akan tidak digunakan lagi.

2. Bentuk Ungkapan

Ungkapan sebagai salah satu komponen penting dalam retorika mempunyai tiga macam bentuk, yaitu berupa kata, frase dan kalimat. Ungkapan yang berupa kata biasanya digunakan dalam konteks kalimat kalau merupakan suatu pernyataan, misalnya kata buaya dalam kalimat “Dasar buaya ibunya sendiri ditipunya”. Namun, bisa juga tidak dalam konteks kalimat apabila digunakan, misalnya di dalam makian, ejekan atau hardikan. Ungkapan dalam bentuk frase mempunyai jumlah yang paling banyak. Apabila dilihat dari kategorinya ada ungkapan dalam bentuk frase verbal, frase nominal, frase ajektival, dan frase preposisional. Ungkapan dalam bentuk frase preposisional jumlahnya sangat terbatas. Ungkapan dalam bentuk kalimat, kalau yang dimaksud kalimat adalah konstruksi yang berunsur subjek dan predikat, jumlahnya juga cukup banyak. Akan menjadi lebih banyak lagi kalau peribahasa juga dianggap sebagai ungkapan.

3.       Penggunaan Ungkapan

Sesuai dengan fungsinya, sebagai komponen yang penting di dalam seni retorika maka ungkapan itu dapat digunakan untuk mengungkapkan berbagai maksud, konsep, gagasan, dan perasaan dari si orator atau penulis kepada para pendengar atau pembaca. Maka ungkapan itu dapat digunakan untuk menyatakan makian, ejekan, sindiran, anjuran atau nasihat, dan penegasan terhadap hal, konsep, keadaan, dan masalah yang ingin diungkapkan. Dalam hal ini, terlihat bahwa penggunaan untuk menegaskan lebih banyak terjadi dari pada untuk maksud lainnya.
            E.Makna dan Penggunaannya dalam bahasa Indonesia.

1. Makna dan Diksi

Diksi adalah kemampuan pembicara atau penulis dalam memilih kata-kata untuk menyusunnya menjadi rangkaian kalimat yang sesuai dengan keselarasan dari segi konteks. Orang yang memiliki kemampuan memilih kata adalah orang harus (a) memiliki kosakata, (b) memahami makna kata tersebut, (c) memahami cara pembentukannya; (d) memahami hubungan-hubungannya, dan (e) memahami cara merangkaikan kata menjadi kalimat yang memenuhi kaidah struktural dan logis.
Ada 7 kriteria yang dapat digunakan untuk memilih kata, yaitu kriteria (1) humanis antropologis; (2) linguistis pragmatis; (3) sifat ekonomis; (4) psikologis; (5) sosiologis; dan (6) politis. Berdasarkan kriteria tersebut dapat digunakan beberapa cara untuk memilih kata, yaitu melihatnya dari segi (1) bentuk kata; (2) baku tidaknya kata; (3) makna kata; (4) konkret atau abstraknya kata; (5) keumuman dan kekhususan kata; (6) menggunakan gaya bahasa/majas; dan (7) idiom.

2.Makna dan Gaya Bahasa

Masalah gaya bahasa termasuk masalah stilistika banyak digunakan dalam sastra. Dalam bahasa Indonesia banyak gaya bahasa yang dapat digunakan, misalnya tentang gaya bahasa:
1. klimaks dan antiklimaks;
2. eufimisme dan desfemisme;
3. hiperbola;
4. perumpamaan;
5. metafora;
6. personifikasi;
7. antitesis;
8. litotes;
9. ironi;
10. paranomasia;
11. metonimia;
12. sinekdoke;
13. alusi

 


4.      Makna dan Kesantunan

Kata santun adalah kata-kata yang dianggap memiliki nilai rasa halus/tinggi dan tidak menyinggung perasaan pendengar atau pembacanya, sedangkan kata tabu (tak santun) adalah kata-kata yang memiliki nilai rasa kasar dan diharapkan tidak diucapkan atau ditulis.Kata santun dapat dikelompokkan atas dua golongan besar, yaitu:Kata santun dapat dikelompokkan atas dua golongan besar, yaitu:

1. kata santun di bidang kepercayaan;
2. kata santun di bidang sosial. Selain itu, dalam pergaulan juga diperhatikan kata santun untuk hal-hal berikut.
1). kata santun untuk mati;
2). kata santun untuk cacat;
3). kata santun untuk hal-hal yang menimbulkan rasa jijik;
4). kata-kata yang perlu disingkat.




                                                                                          





BAB III
PENUTUP


3.1 Simpulan
Setelah penulis membahas tentang Semantik dalam bahasa Indonesia.
pada bab sebelumnya, maka penulis hendak mengambil kesimpulan pembahasan ini berdasarkan rumusan masalah pada bab I/ pendahuluan  sebagai berikut :
  1. ilmu semantik adalah :
a.       Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistic dengan hal-hal yang ditandainya.
b.      Ilmu tentang makna atau arti   
  1. Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang tidak terlepas dari arti atau makna pada setiap perkataan yang diucapkan. Semantik merupakan salah satu bidang semantik yang mempelajari tentang makna. 
  Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Dalam Kamus Linguistik, pengertian makna dijabarkan menjadi :
1. maksud pembicara;
2. pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia;
3. hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya,dan
4. cara menggunakan lambang-lambang bahasa ( Harimurti Kridalaksana, 2001: 132).

3. Cakupan Studi Semantik
a.        Makna dan Semantik
b.       Relasi Makna dalam Bahasa Indonesia
c.       Perubahan Makna dalam Bahasa Indonesia
d.      Hubungan Makna dan Struktur Bahasa Indonesia
e.       Ungkapan dalam Bahasa Indonesia
f.       Makna dan Penggunaan Bahasa dalam Bahasa Indonesia
4. Semantik merupakan cabang linguistik yang penting dipelajari. Dengan mempelajari semantik, kita akan tahu tentang makna-makna bahasa, karena semantik adalah ilmu yang mempelajari tentang makna.


3.2 Saran dan Kritik
Sebagai manusia penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, nampaknya masih banyak yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, penulis berharap adanya saran dan kritikan para pembaca makalah ini yang sifatnya membangun, demi perbaikan dimasa yang akan datang. Walaupun demikian, penulis sudah berusaha untuk mempersembahkan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak-pihak yang turut serta mendorong dan membanru penulis untuk menyelesaikan makalah ini  
Akhirnya, hanya kepada Allah jualah penulis berharap agar makalah ini benar bermanfa'at. Semoga amal ibadah dan kerja keras kita senantiasa mendapatkan ridha, ampunan dan pahala dari Allah SWT. Amiin.




















DAFTAR PUSTAKA


Chaer, Abdul. (1990). Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
                       (2002).Psikolinguistik.Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, Harimurti. (1988). Kamus Sinonim Bahasa Indonesia. Jakarta: Nusa Indah.
http://elyhamdan.wordpress.com/2010/04/16/semantik-bahasa-indonesia-rangkuman/
http://elfaputri.blogspot.com/2010/07/makalah-bahasa-indonesia-makna-semantik.html





   


1 komentar:

  1. My bet365 - Vigitl - YouTube
    I use this on a lot of occasions and they can do very well youtube converter but I really like my betting tips and tips that are posted on YouTube.

    BalasHapus