BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Bahasa
merupakan sistem komunikasi yang amat penting bagi manusia. Bahasa merupakan
alat komunikasi manusia yang tidak terlepas dari arti atau makna pada setiap
perkataan yang diucapkan. Sebagai suatu unsur yang dinamik, bahasa sentiasa
dianalisis dan dikaji dengan menggunakan berbagai pendekatan untuk mengkajinya.
Antara lain pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji bahasa ialah
pendekatan makna. Semantik merupakan salah satu bidang semantik yang mempelajari
tentang makna.
Semantik
merupakan cabang linguistik yang penting dipelajari. Dengan mempelajari
semantik, kita akan tahu tentang makna-makna bahasa, karena semantik adalah
ilmu yang mempelajari tentang makna.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis bermaksud untuk membuat
rumusan-rumusan masalah agar pembahasan dalam makalah ini menjadi lebih
terarah. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
- Apa yang dimaksud dengan semantik ?
- Apa saja cakupan studi semantik ?
1.3
Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan pembahasan makalah ini
adalah sebagai berikut :
1.
Untuk mengetahui pengertian semantik
2.
Untuk mengetahui cakupan studi semantik
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Semantik
Semantik
dalam bahasa Indonesia berasal dari yunani ‘sema’ yang berati ‘tanda’ atau
‘lambang’. Kata kerjanya adalah ‘semaino’ yang berarti ‘menandai’ atau
‘melambangkan’ yang dimaksud tanda atau lambing disini adalah tanda-tanda
linguistik (Perancis : signe linguistique). Menurut Ferdinan de Saussure (1966)
tanda linguistik terdiri dari :
1). Komponen yang menggantikan, yang
berwujud bunyi bahasa.
2). Komponen yang diartikan atau makna
dari komponen pertama.
Kedua komponen ini adalah tanda atau
lambang, dan sedangkan yang ditandai atau dilambangkan adalah sesuatu yang
berada di luar bahasa, atau yang lazim disebut referent/acuan atau hal yang
ditunjuk.
Jadi ilmu semantik adalah :
- Ilmu
yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal
yang ditandainya.
- Ilmu
tentang makna atau arti
2.2 Cakupan Studi Semantik
A.
Pengertian Makna
Semantik merupakan salah satu bidang semantik yang
mempelajari tentang makna. Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam.
Mansoer Pateda (2001:79) mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata
dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata
maupun kalimat. Menurut Ullman (dalam Mansoer Pateda, 2001:82) mengemukakan
bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian. Dalam hal ini Ferdinand
de Saussure ( dalam Abdul Chaer, 1994:286) mengungkapkan pengertian makna
sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda
linguistik.
Dalam Kamus
Linguistik, pengertian makna dijabarkan menjadi :
1. maksud
pembicara;
2. pengaruh
penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok
manusia;
3. hubungan
dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau antara ujaran
dan semua hal yang ditunjukkannya,
4. cara
menggunakan lambang-lambang bahasa ( Harimurti Kridalaksana, 2001: 132).
B. Ragam Makna
1. Makna leksikal
dan makna gramatikal
Makna leksikal ialah makna kata secara lepas, tanpa kaitan
dengan kata yang lainnya dalam sebuah struktur (frase klausa atau kalimat). Contoh:
rumah : bangunan untuk tempat tinggal manusia
rumah : bangunan untuk tempat tinggal manusia
makan : mengunyah dan menelan sesuatu
makanan : segala sesuatu yang boleh dimakan
Makna gramatikal (struktur) ialah makna baru yang timbul
akibat terjadinya proses gramatikal (pengimbuhan, pengulangan, pemajemukan). Contoh:
berumah : mempunyai rumah
berumah : mempunyai rumah
rumah-rumah
: banyak rumah
rumah
makan : rumah tempat makan
rumah
ayah : rumah milik ayah
2.Makna
denotasi dan konotasi
Makna
denotatif (referensial) ialah makna yang menunjukkan langsung pada acuan atau
makna dasarnya.
Contoh:
merah : warna seperti warna darah.
ular : binatang menjalar, tidak berkaki, kulitnya bersisik.
Contoh:
merah : warna seperti warna darah.
ular : binatang menjalar, tidak berkaki, kulitnya bersisik.
Makna
konotatif ialah makna tambahan terhadap
makna dasarnya yang berupa nilai rasa atau gambar tertentu.
Contoh:
Makna dasar Makna tambahan
(denotasi) (konotasi)
merah : warna …………………… berani; dilarang
ular : binatang ………………… menakutkan/ berbahaya
Contoh:
Makna dasar Makna tambahan
(denotasi) (konotasi)
merah : warna …………………… berani; dilarang
ular : binatang ………………… menakutkan/ berbahaya
Makna
dasar beberapa kata misalnya: buruh, pekerjaan, pegawai, dan karyawan, memang
sama, yaitu orang yang bekerja, tetapi nilai rasanya berbeda. Kata buruh dan
pekerja bernilai rasa rendah/ kasar, sedangkan pegawai dan karyawan bernilai
rasa tinggi.
Konotasi dapat dibedakan atas dua macam,
yaitu konotasi positif dan konotasi negatif.
Contoh:
Contoh:
Konotasi positif - Konotasi negatif:
suami istri; laki bini
tunanetra; buta
pria; laki-laki
Kata-kata yang bermakna denotatif tepat digunakan dalam karya ilmiah, sedangkan kata-kata yang bermakna konotatif wajar digunakan dalam karya sastra.
suami istri; laki bini
tunanetra; buta
pria; laki-laki
Kata-kata yang bermakna denotatif tepat digunakan dalam karya ilmiah, sedangkan kata-kata yang bermakna konotatif wajar digunakan dalam karya sastra.
C. Relasi Makna dalam Bahasa Indonesia
Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara
satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lain.
Masalah-masalah
yang dibicarakan pada relasi makna :
1. Sinonim : hubungan
semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan
satuan ujaran lainnya. Contoh : benar = betul.
Faktor
ketidaksamaan dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan
sama persis adalah :
sama persis adalah :
a.
Faktor waktu, contoh : hulubalang dan komandan
b.
Faktor tempat, contoh : saya dan beta
c.
Faktor keformalan, contoh : uang dan duit
d.
Faktor sosial, contoh : saya dan aku. ayah dan bapak
e.
Faktor bidang kegiatan, contoh : matahari dan surya
f.
Faktor nuansa makna, contoh : melihat, melirik, menonton
2. Antonim : hubungan
semantik dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan,
pertentangan dengan ujaran yang lain. Contoh : hidup x mati
Jenis
antonim :
a.
Antonim yang bersifat mutlak, contoh : diam x bergerak
b.
Antonim yang bersifat relatif / bergradasi, contoh : jauh x dekat
c.
Antonim yang bersifat relasional, contoh : suami x istri
d.
Antonim yang bersifat hierarkial, contoh : tamtama x bintara
3. Polisemi adalah kata yang
mempunyai makna lebih dari satu. Contoh : kata kepala :
1.
Kepala yang berarti bagian tubuh yang bagian atas.
2.
Kepala yang menyatakan pimpinan
4. Homonim adalah dua kata
kebetulan bentuk, ucapan, tulisannya sama tetapi beda makna. Contoh : Bisa :
1.
Bisa yang berarti racun
2.
Bisa yang berarti dapat atau mampu
5. Homofon adalah dua kata yang
mempunyai kesamaan bunyi tanpa memperhatikan
ejaanya, dengan makna yang berbeda. Contoh :
ejaanya, dengan makna yang berbeda. Contoh :
1.
Bang : sebutan saudara laki-laki
2.
Bank : tempat penyimpanan dan pengkreditan uang
6. Homograf adalah dua kata yang
memiliki ejaan sama, tetapi ucapan dan maknanya beda. Contoh :
1.
Apel : buah
2.
Apél : rapat, pertemuan
7. Hiponim dan hipernim
Hiponim adalah
sebuah bentuk ujaran yang mencakup dalam makna bentuk ujaran lain. Hipernim
adalah bagian dari hiponim. Contoh :
Hiponim
: buah-buahan
Hipernim
dari buah-buahan misalnya anggur.
8.
Ambiguiti / Ketaksaan Adalah gejala yang terjadi akibat kegandaan makna akibat
tafsiran gramatikal yang berbeda. Tergantung jeda dalam kalimat.
9. Redundansi Adalah
berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.
D. Perubahan
Makna
Perubahan
makna adalah perubahan makna kata sebagai akibat dari berbagai faktor yang
mempengaruhi pemakai kata-kata tersebut, yaitu manusia. Perubahan pada manusia
yang disebabkan oleh berbagai faktor membawa perubahan pula pada bahasa yang
digunakannya.
Perubahan
makna dalam Bahasa Indonesia dapat disebabkan oleh dua faktor umum, yaitu (1)
faktor linguistis dan (2) faktor nonlinguistis.
Yang dimaksud
dengan faktor linguistis adalah faktor kebahasaan yang mengakibatkan perubahan
makna. Jadi, suatu kata berubah maknanya karena mengalami proses kebahasaan,
seperti proses pengimbuhan (afiksasi) dan penggabungan (komposisi).
Faktor
nonlinguistis adalah faktor-faktor nonkebahasaan yang mengakibatkan perubahan
makna. Faktor ini meliput: (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, (2)
perkembangan sosial dan budaya, (3) perbedaan bidang pemakaian, (4) adanya
asosiasi, (5) pertukaran tanggapan indra, dan (6) perbedaan tanggapan
pemakainya.Kegiatan Belajar.
Jenis-Jenis Perubahan Makna Kata-kata dalam
bahasa Indonesia dapat mengalami perubahan makna, di antaranya :
1. Perluasan Makna (generalisasi) Perluasan
makna ialah perubahan makna dari yang lebih khusus atau sempit ke yang lebih
umum atau luas. Cakupan makna baru tersebut lebih luas daripada makna lama.
Contoh:
makna lama makna baru
bapak:
orang tua laki-laki semua orang laki-laki yang lebih tua atau berkedudukan
lebih tinggi.
saudara:
anak yang sekandung semua orang yang sama umur/ derajat.
2. Penyempitan Makna (Spesialisasi) Penyempitan
makna ialah perubahan makna dari yang lebih umum/ luas ke yang lebih khusus/
sempit. Cakupan baru/ sekarang lebih sempit daripada makna lama (semula).
Contoh:
makna lama makna baru:
sarjana
: cendikiawan , lulusan perguruan tinggi
pendeta
: orang yang berilmu, guru Kristen
madrasah
: sekolah, sekolah agama Islam
3. Peninggian Makna (ameliorasi)
Peninggian makna ialah perubahan makna yang mengakibatkan
makna yang baru dirasakan lebih tinggi/ hormat/ halus/ baik nilainya daripada
makna lama. Contoh:
makna lama: makna baru:
makna lama: makna baru:
bung
: panggilan kepada orang laki-laki, panggilan kepada pemimpin
putra
: anak laki-laki, lebih tinggi daripada anak
4. Penurunan Makna (Peyorasi)
Penurunan makna ialah perubahan makna yang mengakibatkan
makna baru dirasakan lebih rendah/ kurang baik/ kurang menyenangkan nilainya
daripada makna lama.
Contoh: makna lama: makna baru:
Contoh: makna lama: makna baru:
bini:
perempuan yang sudah dinikahi, lebih rendah daripada istri
bunting:
mengandung, lebih rendah dari kata hamil
5. Persamaan (asosiasi)
Asosiasi
ialah perubahan makna yang terjadi akibat persamaan sifat antara makna lama dan
makna baru.
Contoh: makna
lama: makna baru:
amplop
: sampul surat, uang sogok
bunga
: kembang, gadis cantik
Mencatut:
mencabut dengan catut, menarik keuntungan
6. Pertukaran (sinestesia)
Sinestesia ialah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan
dua indera yang berbeda dari indera penglihatan ke indera pendengar, dari
indera perasa ke indera pendengar, dan sebagainya.
Contoh:
suaranya terang sekali (pendengaran penglihatan)
suaranya terang sekali (pendengaran penglihatan)
rupanya
manis (penglihat perasa)
namanya
harum (pendengar pencium)
D.Ungkapan dalam bahasa Indonesia
1. Hakikat
Ungkapan
Ungkapan sebagai salah satu komponen dalam retorika dapat diwujudkan
dalam bentuk satuan ujaran yang memiliki makna kias, makna asosiatif, makna
perbandingan maupun makna penyamaan. Satuan-satuan ujaran itu termasuk yang
lazim disebut idiom, metafora, majas, gaya bahasa, dan sebagainya. Ungkapan
merupakan bagian yang sangat penting di dalam seni berbicara, sebab ungkapan
itu dapat memberi “warna” akan keindahan dan kerapian suatu bentuk kebahasaan. Ungkapan
ini bersifat terbuka sehingga sewaktu-waktu dapat bertambah dari mereka yang
pandai berbahasa. Ungkapan yang dirasakan tidak cocok lagi dengan keadaan zaman
akan tidak digunakan lagi.
2. Bentuk Ungkapan
Ungkapan sebagai salah satu komponen penting dalam retorika
mempunyai tiga macam bentuk, yaitu berupa kata, frase dan kalimat. Ungkapan
yang berupa kata biasanya digunakan dalam konteks kalimat kalau merupakan suatu
pernyataan, misalnya kata buaya dalam kalimat “Dasar buaya ibunya sendiri ditipunya”.
Namun, bisa juga tidak dalam konteks kalimat apabila digunakan, misalnya di
dalam makian, ejekan atau hardikan. Ungkapan dalam bentuk frase mempunyai
jumlah yang paling banyak. Apabila dilihat dari kategorinya ada ungkapan dalam
bentuk frase verbal, frase nominal, frase ajektival, dan frase preposisional.
Ungkapan dalam bentuk frase preposisional jumlahnya sangat terbatas. Ungkapan
dalam bentuk kalimat, kalau yang dimaksud kalimat adalah konstruksi yang
berunsur subjek dan predikat, jumlahnya juga cukup banyak. Akan menjadi lebih
banyak lagi kalau peribahasa juga dianggap sebagai ungkapan.
3.
Penggunaan Ungkapan
Sesuai dengan fungsinya, sebagai komponen
yang penting di dalam seni retorika maka ungkapan itu dapat digunakan untuk
mengungkapkan berbagai maksud, konsep, gagasan, dan perasaan dari si orator
atau penulis kepada para pendengar atau pembaca. Maka ungkapan itu dapat
digunakan untuk menyatakan makian, ejekan, sindiran, anjuran atau nasihat, dan
penegasan terhadap hal, konsep, keadaan, dan masalah yang ingin diungkapkan.
Dalam hal ini, terlihat bahwa penggunaan untuk menegaskan lebih banyak terjadi
dari pada untuk maksud lainnya.
E.Makna dan Penggunaannya dalam bahasa Indonesia.
1. Makna dan Diksi
Diksi adalah kemampuan pembicara atau penulis dalam memilih
kata-kata untuk menyusunnya menjadi rangkaian kalimat yang sesuai dengan
keselarasan dari segi konteks. Orang yang memiliki kemampuan memilih kata
adalah orang harus (a) memiliki kosakata, (b) memahami makna kata tersebut, (c)
memahami cara pembentukannya; (d) memahami hubungan-hubungannya, dan (e)
memahami cara merangkaikan kata menjadi kalimat yang memenuhi kaidah struktural
dan logis.
Ada 7 kriteria yang dapat digunakan untuk memilih kata, yaitu kriteria (1) humanis antropologis; (2) linguistis pragmatis; (3) sifat ekonomis; (4) psikologis; (5) sosiologis; dan (6) politis. Berdasarkan kriteria tersebut dapat digunakan beberapa cara untuk memilih kata, yaitu melihatnya dari segi (1) bentuk kata; (2) baku tidaknya kata; (3) makna kata; (4) konkret atau abstraknya kata; (5) keumuman dan kekhususan kata; (6) menggunakan gaya bahasa/majas; dan (7) idiom.
Ada 7 kriteria yang dapat digunakan untuk memilih kata, yaitu kriteria (1) humanis antropologis; (2) linguistis pragmatis; (3) sifat ekonomis; (4) psikologis; (5) sosiologis; dan (6) politis. Berdasarkan kriteria tersebut dapat digunakan beberapa cara untuk memilih kata, yaitu melihatnya dari segi (1) bentuk kata; (2) baku tidaknya kata; (3) makna kata; (4) konkret atau abstraknya kata; (5) keumuman dan kekhususan kata; (6) menggunakan gaya bahasa/majas; dan (7) idiom.
2.Makna dan Gaya
Bahasa
Masalah gaya
bahasa termasuk masalah stilistika banyak digunakan dalam sastra. Dalam bahasa
Indonesia banyak gaya bahasa yang dapat digunakan, misalnya tentang gaya
bahasa:
1. klimaks dan
antiklimaks;
2. eufimisme dan
desfemisme;
3. hiperbola;
4. perumpamaan;
5. metafora;
6. personifikasi;
7. antitesis;
8. litotes;
9. ironi;
10. paranomasia;
11. metonimia;
12. sinekdoke;
13. alusi
4.
Makna dan
Kesantunan
Kata santun adalah kata-kata yang dianggap memiliki nilai rasa
halus/tinggi dan tidak menyinggung perasaan pendengar atau pembacanya,
sedangkan kata tabu (tak santun) adalah kata-kata yang memiliki nilai rasa
kasar dan diharapkan tidak diucapkan atau ditulis.Kata santun dapat
dikelompokkan atas dua golongan besar, yaitu:Kata santun dapat dikelompokkan atas
dua golongan besar, yaitu:
1. kata santun di bidang
kepercayaan;
2. kata santun
di bidang sosial. Selain itu, dalam pergaulan juga diperhatikan kata santun
untuk hal-hal berikut.
1). kata
santun untuk mati;
2). kata
santun untuk cacat;
3). kata
santun untuk hal-hal yang menimbulkan rasa jijik;
4). kata-kata
yang perlu disingkat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Setelah penulis membahas tentang Semantik dalam bahasa Indonesia.
pada bab sebelumnya, maka penulis hendak
mengambil kesimpulan pembahasan ini berdasarkan rumusan masalah pada bab I/
pendahuluan sebagai berikut :
- ilmu semantik adalah :
a. Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistic
dengan hal-hal yang ditandainya.
b. Ilmu tentang makna atau arti
- Bahasa merupakan alat
komunikasi manusia yang tidak terlepas dari arti atau makna pada setiap
perkataan yang diucapkan. Semantik merupakan salah satu bidang semantik
yang mempelajari tentang makna.
Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Dalam Kamus Linguistik, pengertian
makna dijabarkan menjadi :
1.
maksud pembicara;
2.
pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau
kelompok manusia;
3.
hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau
antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya,dan
4.
cara menggunakan lambang-lambang bahasa ( Harimurti Kridalaksana, 2001: 132).
3. Cakupan Studi Semantik
a.
Makna dan
Semantik
b.
Relasi
Makna dalam Bahasa Indonesia
c.
Perubahan Makna dalam Bahasa Indonesia
d.
Hubungan Makna dan Struktur Bahasa Indonesia
e.
Ungkapan dalam Bahasa Indonesia
f.
Makna dan Penggunaan Bahasa dalam Bahasa
Indonesia
4. Semantik
merupakan cabang linguistik yang penting dipelajari. Dengan mempelajari
semantik, kita akan tahu tentang makna-makna bahasa, karena semantik adalah
ilmu yang mempelajari tentang makna.
3.2 Saran dan Kritik
Sebagai
manusia penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
nampaknya masih banyak yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, penulis berharap
adanya saran dan kritikan para pembaca makalah ini yang sifatnya membangun,
demi perbaikan dimasa yang akan datang. Walaupun demikian, penulis sudah berusaha
untuk mempersembahkan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Penulis mengucapkan
terima kasih banyak kepada pihak-pihak yang turut serta mendorong dan membanru
penulis untuk menyelesaikan makalah ini
Akhirnya,
hanya kepada Allah jualah penulis berharap agar makalah ini benar bermanfa'at.
Semoga amal ibadah dan kerja keras kita senantiasa mendapatkan ridha, ampunan
dan pahala dari Allah SWT. Amiin.
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer, Abdul. (1990). Pengantar
Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
(2002).Psikolinguistik.Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, Harimurti. (1988).
Kamus Sinonim Bahasa Indonesia. Jakarta: Nusa Indah.
http://elyhamdan.wordpress.com/2010/04/16/semantik-bahasa-indonesia-rangkuman/
http://elfaputri.blogspot.com/2010/07/makalah-bahasa-indonesia-makna-semantik.html
My bet365 - Vigitl - YouTube
BalasHapusI use this on a lot of occasions and they can do very well youtube converter but I really like my betting tips and tips that are posted on YouTube.